Mengenal penyakit ASF (Demam babi Afrika)
Demam babi Afrika (bahasa Inggris: African Swine Fever, disingkat ASF) adalah penyakit menular pada babi yang disebabkan oleh virus african swine fever. Virus ini dapat menginfeksi anggota famili Suidae, baik babi yang diternakkan maupun babi liar. Penyakit ASF dapat menyebar dengan cepat dengan tingkat kematian yang tinggi sehingga dapat menimbulkan kerugian ekonomi yang besar.
Manifestasi penyakit secara klinis hanya terlihat pada babi domestik dan babi hutan. Belum ada bukti bahwa virus ASF dapat menginfeksi manusia.Terdapat variasi tanda klinis dan tingkat kematian akibat ASF, bergantung pada tingkat virulensi virus dan spesies babi yang terinfeksi. Bentuk penyakit yang ditemukan yaitu perakut, akut, subakut kronis, dan subklinis. Masa inkubasi biasanya berlangsung antara 4-19 hari.Pada penyakit bentuk akut, masa inkubasi berlangsung lebih singkat (3-7 hari), diikuti dengan demam tinggi (hingga 42 °C), dan kematian dalam 5-10 hari atau dalam 6-13 hari (hingga 20 hari). Selain demam tinggi, tanda klinis lain yang ditemukan yaitu depresi, hilangnya nafsu makan, hemoragi (pendarahan) pada kulit dan organ dalam, abortus pada babi bunting, sianosis, muntah, dan diare. Angka kematian dapat mencapai 100% dan terkadang, kematian terjadi bahkan sebelum tanda klinis dapat diamati.Demam babi Afrika tidak dapat dibedakan dengan demam babi klasik (Hog cholera) hanya dengan pemeriksaan klinis atau pascamati. Pengujian laboratorium diperlukan untuk mendiagnosis penyakit ini. Sampel yang digunakan darah, serum, limpa, amandel, dan kelenjar getah bening gastrohepatik dari kasus yang dicurigai. Metode pengujian yang dapat dilakukan untuk mengidentifikasi virus ASF yaitu isolasi virus atau uji hemadsorpsi, uji antibodi fluoresens (FAT), ELISA antigen, serta reaksi berantai polimerase (PCR), baik PCR konvensional maupun PCR waktu nyata (real-time). Adapun metode pengujian untuk mendeteksi respons kekebalan tubuh yaitu ELISA antibodi, uji imunoperoksidase tidak langsung (IPT), uji antibodi fluoresens tidak langsung (IFAT), dan uji imunoblot (IBT).Diferensial diagnosa ASF selain Hog cholera (demam babi klasik) yaitu sindrom reproduksi dan respirasi babi (PRRS), sindrom dermatitis dan nefropati babi (PDNS), erisipelas, pseudorabies, salmonelosis dan septisemia bakterial lain, serta keracunan. Pada bentuk subakut dan kronis yang disebabkan oleh virus dengan virulensi yang rendah, tanda klinis yang muncul lebih ringan dan berlangsung dalam periode waktu yang lebih lama. Tingkat kematian lebih rendah, berkisar antara 30-70%. Manifestasi penyakit bentuk kronis di antaranya penurunan berat badan, demam intermiten atau berkala, gangguan pernapasan, ulser pada kulit, dan radang sendi. Bentuk ini jarang ditemukan pada wabah penyakit. BELUM ADA vaksin yang mampu mencegah dan obat yang mampu menyembuhkan demam babi Afrika . Oleh karena itu, cara pencegahan yang bisa dilakukan adalah mencegah lalu lintas media pembawa virus ASF dan menerapkan biosekuriti yang baik di daerah yang belum terinfeksi. Tindakan yang bisa diambil seperti memastikan limbah makanan dari pesawat, kapal laut, dan kendaraan atau dari rumah tangga dikelola dengan baik dan tidak dikonsumsi oleh babi, serta mencegah pemasukan ilegal babi hidup dan produk babi dari daerah terinfeksi ASF.
(disadur dari wikipedia dengan bbrp penyesuaian)
